Membangun Potensi Diri dengan 'BERLIAN 12'

Apakah BERLIAN 12 itu?


Berlian 12 ialah kajian sekaligus pelatihan pengembangan diri melalui prinsip-prinsip akhlak yang didasarkan pada 12 nilai-nilai universal Islam sebagai agama tauhid (ke-Esaan Allah). Nilai-nilai ajaran Islam yang mendasarinya ialah nilai-nilai Rukun Iman, Rukun Islam, dan Jihad.

Proses pembangunan akhlak sendiri ditempuh melalui dua jalan. Pertama, dengan meningkatkan keyakinan atas prinsip-prinsip rukun iman dan beristiqomah terhadap prinsip-prinsip tersebut; serta kedua, dengan kegiatan ibadah yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkelanjutan, termasuk terus-menerus berproses secara berulang-ulang untuk memiliki akhlak Allah Swt, Asmaul Husna.

Nilai-Nilai Dasar Bangunan Sistema Berlian 12

6 Rukun Iman sebagai prinsip moral

5 Rukun Islam sebagai prinsip tindakan

1 nilai Jihad sebagai prinsip kesungguhan dan kerja keras


· Rukun Iman:

1. Percaya Kepada Allah (The Greatest Light)

2. Percaya kepada malaikat (The Continuous Watching)

3. Percaya kepada kitab-kitab-Nya (The Main Guidance)

4. Percaya kepada para Rasul (The Great Leader)

5. Percaya kepada Hari Kiamat (The Calculation Day)

6. Percaya kepada Taqdir (The Certain Rules)


· Rukun Islam:

1. Syahadat (Mengakui untuk Memuliakan)

2. Shalat (Menegakkan untuk Merumuskan)

3. Puasa (Menahan untuk Mengendalikan)

4. Zakat (Memberi untuk Membersihkan)

5. Haji (Mendatangi untuk Mendekatkan)


· Jihad

(Berjuang untuk Pencapaian)


MEMBANGUN AKHLAK MULIA : MEMBANGUN KEANDALAN DIRI

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu akhlaq dengan akar katanya khalaqa yang artinya menciptakan, membuat, atau membentuk. Sebagai hasil dari sebuah proses mencipta dan membentuk, akhlak harus dibangun dan dibentuk dengan usaha yang keras dan sungguh-sungguh. Dalam literatur kepustakaan, akhlak diartikan sebagai sikap yang melahirkan perbuatan dan perilaku yang sifatnya mungkin baik atau mungkin juga buruk.

Secara sederhana akhlak dapat diartikan sebagai perilaku seseorang dalam kegiatannya sehari-hari. Sedangkan akhlak mulia ialah sikap dan perilaku positif yang ditampilkan oleh seorang individu dalam kesehariannya. Konteks membangun akhlak mulia sebenarnya tidak hanya terbatas pada sikap dan perilaku yang positif saja namun juga berupaya menerapkan segala amal usaha atau perbuatan dengan sikap-sikap baik (shiddiq), jujur (amanah), cerdas (fathanah), dan aktif (tabligh), yang jika dilakukan terus-menerus dapat meningkatkan kualitas diri seorang individu.
Dengan begitu akhlak mulia merupakan sikap dan perbuatan positif seorang individu dalam merespon dinamika internal dirinya dan lingkungan eksternalnya secara aktif dan kreatif. Karena pada kenyataannya Tuhan telah memberikan anugerah potensi kepada manusia seperti panca indera, kecerdasan, bakat, dan lain-lain, agar mereka dapat menggunakannya secara maksimal dengan membangun akhlak yang positif untuk kepentingan hidup mereka di dunia.
Dengan demikian akhlak merupakan faktor strategis dalam membangun keandalan diri. Manusia yang berhasil meraih kesuksesan, diantaranya karena ditopang oleh faktor akhlak tertentu yang positif dan membangun. Sebaliknya manusia yang gagal dalam mengisi hidupnya dengan kemanfaatan juga dipengaruhi oleh akhlak yang dianutnya, khususnya akhlak yang tidak positif dan tidak membangun.
Pembangunan akhlak meliputi nilai, sikap, dan perilaku yang dibangun untuk meningkatkan keandalan diri seorang individu. Membangun akhlak pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kinerja seseorang didalam meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu, serta penggalian semua potensi-aktualisasi diri, baik yang berkaitan dengan posisinya sebagai insan pekerja maupun sebagai insan sosial.
Akhlak mulia dalam bentuk keandalan diri mendukung pelaksanaan amal shaleh dan kerja sinergis. Semua dimaksimalkan dengan kepemimpinan yang berbasis etika, didukung oleh manajemen yang berbasis pelayanan, dan komunikasi yang berbasis kebenaran.

BERLIAN SEBAGAI SIMBOL HATI NURANI YANG BERSIH-BERCAHAYA



Hati dan Hati nurani yang bersih-bercahaya merupakan dua hal yang hampir identik. Yang pertama merujuk pada kata benda, sedang yang kedua merujuk pada kata sifat.

Sebagai kata benda, hati adalah kaca jendela jiwa. Hanya kaca jendela yang bersih saja yang mampu ditembus oleh sinar cahaya. Sementara kaca yang kotor apalagi hitam sudah pasti tidak akan mampu ditembus oleh cahaya karena terhalang oleh kotoran tadi. Hati yang bersih mampu merefleksikan cahaya Tuhan yang bersemayam di dalam jiwa manusia dan menjadikannya sebagai sumber tuntunan dan panutan.
Sementara makna Hati nurani yang bersih-bercahaya ialah sifat keadaan dimana hati yang bersih dan jiwa saling menyatu sehingga terpancarlah cahaya Tuhan dalam jiwa melalui hati tersebut dan membangun keadaan Hati nurani yang bersih-bercahaya.
Dengan demikian Hati nurani itu sendiri ialah sifat sebuah keadaan dimana jiwa manusia dilingkupi oleh hati yang bersih sehingga cahaya petunjuk Tuhan yang ada di dalam jiwa dapat menerangi hati, fikiran, dan tindakan seseorang dan menjadikannya sebagai sumber nilai panutan bagi seorang Manusia-Pemimpin (khalifah).