Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu akhlaq dengan akar katanya khalaqa yang artinya menciptakan, membuat, atau membentuk. Sebagai hasil dari sebuah proses mencipta dan membentuk, akhlak harus dibangun dan dibentuk dengan usaha yang keras dan sungguh-sungguh. Dalam literatur kepustakaan, akhlak diartikan sebagai sikap yang melahirkan perbuatan dan perilaku yang sifatnya mungkin baik atau mungkin juga buruk.
Secara sederhana akhlak dapat diartikan sebagai perilaku seseorang dalam kegiatannya sehari-hari. Sedangkan akhlak mulia ialah sikap dan perilaku positif yang ditampilkan oleh seorang individu dalam kesehariannya. Konteks membangun akhlak mulia sebenarnya tidak hanya terbatas pada sikap dan perilaku yang positif saja namun juga berupaya menerapkan segala amal usaha atau perbuatan dengan sikap-sikap baik (shiddiq), jujur (amanah), cerdas (fathanah), dan aktif (tabligh), yang jika dilakukan terus-menerus dapat meningkatkan kualitas diri seorang individu.
Dengan begitu akhlak mulia merupakan sikap dan perbuatan positif seorang individu dalam merespon dinamika internal dirinya dan lingkungan eksternalnya secara aktif dan kreatif. Karena pada kenyataannya Tuhan telah memberikan anugerah potensi kepada manusia seperti panca indera, kecerdasan, bakat, dan lain-lain, agar mereka dapat menggunakannya secara maksimal dengan membangun akhlak yang positif untuk kepentingan hidup mereka di dunia.
Dengan demikian akhlak merupakan faktor strategis dalam membangun keandalan diri. Manusia yang berhasil meraih kesuksesan, diantaranya karena ditopang oleh faktor akhlak tertentu yang positif dan membangun. Sebaliknya manusia yang gagal dalam mengisi hidupnya dengan kemanfaatan juga dipengaruhi oleh akhlak yang dianutnya, khususnya akhlak yang tidak positif dan tidak membangun.
Dengan demikian akhlak merupakan faktor strategis dalam membangun keandalan diri. Manusia yang berhasil meraih kesuksesan, diantaranya karena ditopang oleh faktor akhlak tertentu yang positif dan membangun. Sebaliknya manusia yang gagal dalam mengisi hidupnya dengan kemanfaatan juga dipengaruhi oleh akhlak yang dianutnya, khususnya akhlak yang tidak positif dan tidak membangun.
Pembangunan akhlak meliputi nilai, sikap, dan perilaku yang dibangun untuk meningkatkan keandalan diri seorang individu. Membangun akhlak pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kinerja seseorang didalam meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu, serta penggalian semua potensi-aktualisasi diri, baik yang berkaitan dengan posisinya sebagai insan pekerja maupun sebagai insan sosial.
Akhlak mulia dalam bentuk keandalan diri mendukung pelaksanaan amal shaleh dan kerja sinergis. Semua dimaksimalkan dengan kepemimpinan yang berbasis etika, didukung oleh manajemen yang berbasis pelayanan, dan komunikasi yang berbasis kebenaran.